Skip to main content

Menyusut Seperti Big Crunch

Sebelum adanya Bumi, Bulan maupun Matahari. Alam semesta yang kita tinggali pada awalnya berbentuk padat juga bersuhu panas, karena berbagai unsur dan proses tertentu maka terjadilah dentuman/ledakan besar. Dentuman tersebut kemudian menghasilkan planet-planet dan benda angkasa baru, termasuk Bumi. Satu-satunya planet yang di huni oleh Manusia.

Bermiliar-miliar tahun setelah dentuman itu terjadi, alam semesta-pun terus mengembang. Setiap galaksi saling berjauhan, entah akan berlangsung sampai kapan, tak ada yang tahu.

Pada perkembangannya, Manusia-pun mulai mengenal dimensi. Sederhananya, "dimensi awal" adalah sejumlah aspek berbeda dari realitas yang menjelaskan panjang, lebar, dan kedalaman dari suatu objek. Jika di persempit kembali maka akan mengerucut pada kesimpulan adanya 3 dimensi awal yang di wakili oleh Panjang, Lebar dan kedalaman.

Tidak hanya sampai disitu, dengan daya pikir yang di miliki oleh seorang Manusia. Mereka pun mampu mengobservasi segala fenomena yang terjadi dalam realitasnya hingga mereka terus menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru. Dimensi ke 4 pun mulai terdefinisi dan Manusia mencoba untuk memahami hal itu.

Herman Minskowki seorang Matematikawan berkebangsaan Jerman berujar ;

"Henceforth, space by itself, and time by itself, are doomed to fade away into mere shadows, and only a kind of union of the two will preserve an independent reality"

Lalu Albert Einstein merumuskannya lewat Teori Relaitivitas. Ia berpandangan bahwa ruang dan waktu sebenarnya saling terkait juga merupakan kesatuan dari sistem koordinat. Pendapat tersebut kemudian di perkuat dengan Teori-Teori lain, seperti Teori Gelombang Elektro Magnetik. Dari hal tersebut maka waktu sebagai dimensi ke 4 tidak dapat di lepaskan dari dimensi sebelumnya (Ruang).

Teori Relativitas kemudian memicu berbagai Inovasi untuk menciptakan sebuah Mesin baru yang mampu menjelajahi waktu. Namun saya sendiri pesimis mereka akan menemukan hal itu. Hal tersebut di landasi atas keterbatasan Manusia, meski memang pada kenyataannya kehebatan dari daya pikir Manusia tidak ada duanya, Namun fisik mereka memiliki batas tertentu yang menyebabkan Manusia sulit untuk beradaptasi dalam waktu ekstreme pada lingkungan yang baru dan sumber daya alam serta Inovasi yang di miliki oleh Manusia hari ini belum mampu menunjang terciptanya Inovasi tersebut.

Terciptanya Teori Ruang dan Waktu cukup memberi banyak gambaran serta penjelasan. Salah satunya adalah tentang bagaimana kita tidak mampu melihat Makhluk di luar dari dimensi yang kita tinggali. Sederhananya, kita jadi tahu mengapa 1 Hari di langit itu bisa ribuan Tahun di bumi, dan mengapa penduduk langit mampu tahu masa depan apa yang akan di hadapi oleh penduduk Bumi.

Secara tidak sadar ketika langit terus mengembang dan galaksi saling berjauhan, ketika Manusia tengah memecut dirinya sendiri untuk mengembangkan Inovasi-inovasi baru yang mampu bermanfaat bagi kehidupannya, saat itu pula waktu berjalan kedepan, menuju batas ketika ia akan kembali menyusut karena pengaruh dari Gaya Gravitasi

Big Crunch adalah Teori yang menjelaskan hal tersebut. Seperti ketika awal mula Alam Semesta terbentuk, seperti itu pula Alam Semesta akan berakhir. Ia akan kembali menyusut dan planet serta benda langit lain akan saling bertumbukan dan menciptakan tempat baru. Agama yang saya anut menjelaskan hari itu adalah hari kiamat dan lingkungan baru yang terbentuk adalah padang Mahsyar, hari dimana segala amal Manusia di perhitungkan.

Begitu pula peradaban yang telah kita bangun sedemikian megahnya hari ini. Peradaban tersebut akan runtuh, baik oleh alam maupun oleh ketamakan yang dimiliki Manusia itu sendiri. Meski dengan esensi yang sama, hal tersebut akan menjadi pelajaran baru yang berharga bagi generasi berikutnya.

Comments